Politisi Hiperindustri
Oleh Askurifai Baksin
DALAM
Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘hiper’ berarti berlebihan; di luar
atau terlampau melampaui batas. Biasanya
kata sifat ini disematkan pada kata kerja atau kata benda. Jadi, hiperindustri
bisa diartikan sebagai industri yang berlebihan. Maksudnya ‘dilebih-lebihkan’,
tidak biasa dan ‘keterlaluan’.
Luviana (mantan wartawan Metro TV yang dipecat
kemudian kisahnya dibuat film dengan judul “Di Balik Frekuansi” sutradara Ucu
Agustin) pernah menyindir, kini ada beberapa pengusaha media yang dikategorikan
hiperindustri. Menurut saya, pernyataan itu sebagai otokritik terhadap media
yang pernah menampungnya sebagai seorang reporter. Di Metro TV sang pemilik
Surya Paloh menggunakan media miliknya melakukan hiperindustri. Politisi ini
rajin muncul dengan senyum tersungging di Metro TV. Tidak lain untuk
meningkatkan elektabilitas demi pencalonnya sebagai capres 2014.
Selain itu Abu Rizal Bakri (ARB) juga semakin rajin
menyambangi pemirsa dengan senyumnya via ‘iklan’ politik Golkar di media
miliknya (TV-One. ANTV, Viva News). Kini semakin sering frekuensi penayangan
‘profil’ARB untuk menarik simpati dan dukungan pemirsa TV One dan AN-TV. Salah
satunya untuk mendongkrak elektabilitas sebagai calon presiden mendatang.
Beberapa hari lalu Komisi Penyiaran Indonesia melalui
humasnya menegur dua tayangan MNC Group, yakni RCTI dan Global TV. KPI menegur
Global TV karena menayangkan acara Kuis Indonesia Cerdas. KPI menilai
stasiun tv milik Hary Tanoesoedibjo (HT) ini menayangkan program yang dibiayai,
disponsori, dan menguntungkan salah satu parpol peserta Pemilu yakni Hanura.
Demikian juga RCTI ditegur karena menampilkan program Kuis
Kebangsaan yang juga dibiaya, disponsori, dan menguntungkan Partai Hanura. Jelas,
kedua program tersebut ditujukan untuk publisitas dan promosi Wiranto dan Hary
Tanu sebagai calon presiden dan wakil. Semata-mata untuk meningkatkan
elektabilitas di mata masyarakat. Dan dalam kontek industri media, mereka yang
menggunakan media miliknya untuk kepentingan pribadi kita berikan predikat
politisi hiperindustri. Jadi, Surya Paloh, ARB, dan Win HT masuk sebagai
politisi hiperindustri.
Para politisi hiperindustri
melupakan terjadinya pergeseran paradigma media dari Agenda Setting
menjadi Uses and Gratification. Pada konsepsi Agenda Setting
media aktif ‘ngeset’ program acara sesuai dengan keinginan pengelola
media (termasuk) pemiliknya. Seolah apa yang dianggap penting media akan
dianggap penting juga oleh khalayak. Para politisi hiperindustri ini merasa yakin
kemunculannya di media dianggap penting. Penting, karena para capres ini punya
kepentingan meningkatkan elektablisitas. Tapi apakah khalayak menganggapnya
penting? Jangan-jangan begitu mereka
muncul pemirsa langsung memindahkan saluran tv-nya.
Hiperindustri sama sekali tidak
sejalan dengan teori Uses and Gratification. Teori ini mengamanatkan khalayak
selektif menonton acara yang betul-betul penting dan sesuai dengan pemenuhan
kebutuhan individunya. Jika sebuah program tv dirasa tidak penting dan tidak
mampu memenuhi kebutuhannya maka tidak akan diapresiasi (ditonton). Di sini
para capres masih percaya dan menganut Teori Agenda Setting, sementara
khalayak sudah bergeser ke Uses & Gratification.
Entitas
Media
Untuk mengamati fenomena politisi hiperindustri ini saya
meminjam konsepsi Ashadi Siregar yang memandang media dari dua entitas. Pertama, sebagai
pembentuk (moulder) masyarakat.
Hal ini bertolak dari paradigma yang
menempatkan media sebagai suatu instrumen yang memiliki daya kuat dalam
memengaruhi alam pikiran warga masyarakat. Posisi
media semacam ini akan melihat keberadaan media massa sebagai
faktor penting yang memiliki daya memengaruhi sasarannya. Sejumlah ahli
bahkan merumuskan bahwa setiap komunikasi dengan media massa pada dasarnya berpretensi
untuk mengubah sasaran agar sesuai dengan kehendak komunikator.
Para capres melalui media miliknya mencoba memengaruhi
masyarakat dengan tampil sesering mungkin (alih-alih tidak membayar biaya
iklan). Hampir setiap hari mereka muncul di layar kaca . Mereka percaya dengan
frekuensi munculnya tinggi akan meningkatkan elektabilitas di mata
khalayak.
Hal ini sesuai dengan Model Jarum Hipdermik yang
beranggapan bahwa media massa
memiliki pengaruh langsung, segera,
dan menentukan khalayak. Menurut Elihu Katz, model ini didasarkan asumsi bahwa
media massa mempunyai pengaruh kuat dan mampu melaksanakan kehendaknya pada
khalayak yang sama sekali tidak berusaha
mencoba berpikir lain.
Selain
itu khalayak yang otomistis (dianggap tidak punya hubungan
satu sama lain) terikat
pada media massa tetapi tidak terikat pada kelompoknya. Pengaruh media
digambarkan sebagai suatu kekuatan yang dapat mengubah perilaku manusia tanpa
dihalangi kekuatan apa pun.
Dan model ini ternyata masih dianut para politisi hiperindustri.
Kedua, sebagai cermin (mirror)
yang memantulkan keadaan masyarakat.
Bahwa kondisi khalayak kita umumnya melupakan peristiwa masa lalu dan tergiur
dengan janji-janji baru. Kesalahan pemimpin masa lalu dianggap tidak ada
apa-apanya karena terpesona dengan janji-janji calon pemimpin mendatang.
Janji-janji yang dulu pernah dilontarkan para capres tampaknya tidak menjadi
renungan mengapa janji-janji itu tidak terealisir. Seolah janji yang tak
ditepati pemimpin sudah biasa sehingga masyarakat mudah memaafkan. Ini bertolak
belakang dengan ungkapan Nelson Mandela
ketika menjadi presiden Afrika Selatan: “forgive but don’t forget’.
Belakangan Political Communication Institute merilis
ada tiga tokoh muda partai politik yang diprediksi akan mampu bersaing dengan
Jokowi jika maju dalam Pilpres 2014 (PR, 3/2). Ketiga nama ini adalah Wali Kota
Surabaya Tri Rismaharani, Priyo Budi Santoso (Golkar) dan Hary Tanu (Hanura). Dari ketiga tokoh ini hanya Hary Tanu yang
melakukan hiperindustri masuk ke dalam tokoh yang mampu bersaing dengan Jokowi.
Dan yang dua lagi ternyata tingkat elektabilitasnya (ternyata) tidak
terdongkrak.
Tim sukses masing-masing capres tampaknya harus mulai
berpikir kritis dengan menengok lagi pengaruh monopoli dan hegemoni media.
Bahwa dalam monopoli khalayak mampu dikuasai secara ekonomi dan bisnis melalui
tayangan yang menghibur bahkan vulgar. Tapi pada hegemoni khalayak dikuasai
lewat pendekatan ideologi. Dengan melakukan praktik hiperindustri ini akhirnya
beberapa media di atas membentuk ideologi sendiri sesuai pendekatan politisi
yang melalakukan hiperindustri. Katakanlah Metro TV menawarkan ideologi
demokrasi, MNC Group menjajakan kerakyatan, dan ANTV-TV One mnyodorkan
kegotongroyongan.
Inilah efek hiperindustri yang saya lihat. Jadi,
meskipun beberapa politisi melakukan hiperindustri tapi ternyata hasilnya
(belum) sesuai harapan. Akanlah hiperindustri terus mereka lakukan? Ataukah
berhenti karena tidak mampu meningkatkan elektabilitas mereka?
*tulisan
ini pernah dimuat di HU Pikiran Rakyat Maret 2014
0 comments:
Post a Comment